Showing posts with label Wiji Thukul. Show all posts
Showing posts with label Wiji Thukul. Show all posts

30 May 2013

Catatan Harian

setiap hari
mengulur waktu
mengulur waktu
bikin alasan
begini
begitu
pembenaran
pembenaran
membenarkan diam
di kampus
di rumah
di pentas
takut tidak
membenarkan ya
ya
ya
kapan bebas ya
kapan berani tidak

solo - des '87

Penyair

jika tak ada mesin ketik
aku akan menulis dengan tangan
jika tak ada tinta hitam
aku akan menulis dengan arang

jika tak ada kertas
aku akan menulis di dinding
jika menulis di dinding dilarang
aku akan menulis dengan 
pemberontakan
dan tetes darah

sarang teater jagat, 19 januari 1988

Habis Upahan

barusan
lenyap
upah kerja sebulan
sekejap
lenyap

sekejap saja mampir di kantong
dipotong spsi
sewa rumah bon di warung
odol shampo dan ini itu
kantong kembali kosong

di lantai lembab bertopang dagu
di paku-paku bergelantungan
anduk basah dan cucian
dalam tempurung kelapa
jelas terbayang
hasil kerja memenuhi bak mobil
mobil angkutan
dibawa kapal menyeberangi lautan
memasuki toko toko sudut sudut
benua

dan tiap akhir bulan
kami yang mengupas kapas
jadi wujud kain
kain kain serupa pelangi
tiap akhir bulan
di bawah lampu penerang
rumah kontrakan
yang remang-remang
mengotak-atik
kertas slip*
seperti anak SD
mencari jawaban
soal matematika

Solo, 4 Agustus 1993

*) rincian upah

28 May 2013

Peluk Sekuat Cintamu

oleh Wiji Thukul

kehadiran kita nanti
akan diterima dunia yang kabur
perkawinan kita nanti
perayaan kemiskinan besar-besaran

anakmu nanti
akan lahir ke dunia juga
diperas kerja keras
tapi ucapkan selamat kekasihku
semoga terang
biar kemiskinan menempatkan diri
di pojok-pojok
kita harus ambil bagian
ucapkan selamat kekasihku
mari ke depan maju
kecupi rahmat
peluk ! peluk sekuat cintamu

tegalmade, bekonang, 15 maret 1988

Ayo Kita Tebakan !

oleh Wiji Thukul


ayo kita tebakan !

dia raja
tapi tanpa mahkota
punya pabrik punya istana
coba tebak siapa dia?
dia dalah aku!

dia kaya
keluarganya punya saham di mana-
mana
tapi negaranya rangkking tiga
paling korup di dunia
cobak tebak siapa dia?
dia adalah aku!

dia tua
tapi ingin tetap berkuasa
tak boleh ada calon lain
selain dia
kalau marah
mengarahkan angkatan bersenjata
rakyat kecil yang tak bersalah
ditembak jidatnya
coba tebak siapa dia?
dia adalah aku!

dia sakti
tapi pasti mati
meski seakan tak bisa mati
coba tebak siapa dia?
dia adalah aku!

siapa aku?
aku adalah diktator
yang tak bisa tidur nyenyak!

19 May 2013

Aku Diburu Pemerintahku Sendiri






















oleh : Wiji Thukul

aku diburu pemerintahku sendiri
layaknya aku ini
penderita penyakit berbahaya

aku sekarang buron
tapi jadi buron pemerintah yang 
lalim
bukanlah cacat
pun seandainya aku dijebloskan
ke dalam penjaranya

aku sekarang terlentang
di belakang bak truk
yang melaju kencang
berbantal tas
dan punggung tangan

kuhisap dalam-dalam
segarnya udara malam
langit amat jernih
oleh jutaan bintang

sungguh
baru malam ini
begitu merdeka paru-paruku

malam sangat jernih
sejernih pikiranku
walau penguasa hendak
mengeruhkan
tapi siapa mampu mengusik
ketenangan bintang-bintang?


Kado untuk Pengantin Baru





















oleh : Wiji Thukul

pengantin baru
ini ada kado untukmu
seorang penyair
yang diburu-buru

maaf aku mengganggu
malam bulan madumu
aku minta kamar satu
untuk membaringkan badanku

pengantin baru
ini datang lagi tamu
seorang penyair
yang dikejar-kejar serdadu

memang tak ada kenikmatan
di negeri tanpa kemerdekaan
selamanya tak akan ada kemerdekaan
jika berbeda pendapat menjadi hantu

pengantin baru
ini ada kado untukmu
seorang penyair yang dikejar-kerjar
serdadu...



Para Jenderal Marah-Marah






















oleh : Wiji Thukul

Pagi itu kemarahannya disiarkan
oleh televisi. Tapi aku tidur. Istriku
yang menonton. Istriku kaget. Sebab

seorang letnan jenderal menyeret-nyeret 
namaku. Dengan tergopoh-gopoh 
selimutku ditarik-tariknya. Dengan
mata lengket aku bertanya:
mengapa? Hanya beberapa patah kata
keluar dari mulutnya: "Namamu di 
televisi...." Kalimat itu terus dia ulang
seperti otomatis.

Aku tidur lagi dan ketika bangun
wajah jenderal itu sudah lenyap dari 
televisi. Karena acara sudah diganti.

Aku lalu mandi. Aku hanya ganti baju.
Celananya tidak. Aku memang lebih
sering ganti baju ketimbang celana.

Setelah menjemur handuk aku ke
dapur. Seperti biasa mertuaku yang
setahun lalu tinggal mati suaminya
itu, telah meletakkan gelas berisi teh 
manis. Seperti biasanya ia meletakkan 
di sudut meja kayu panjang itu, dalam
posisi yang gampang diambil. Istriku 
sudah mandi pula. Ketika berpapasan
denganku kembali kalimat itu meluncur.

"Namamu di televisi..." ternyata istriku
jauh lebih cepat mengendus bagaimana
kekejaman kemanusiaan itu dari pada
aku.