Showing posts with label Hidup Berkah. Show all posts
Showing posts with label Hidup Berkah. Show all posts

26 Apr 2017

Soal Rejeki, Kejarlah Dengan Cara yang Baik


Tadi pagi, diantara beceknya pasar tradisional, aku mengantri untuk dilayani, di tukang ikan.

“mahal amat, kurangi deh, ikan kayak gini, udah nggak segar,”tawar ibu berambut hasil rebonding itu.

“25ribu itu udah pas Bu, karna udah siang, kalo pagi, nggak kurang dari 30ribu,”jawab ibu penjual ikan.

“Ahhh 20ribu kalo mau, udah sisa-sisa jelek begini kok,” tawar si ibu rebonding.

Mata tua penjual ikan mengerjap pelan, mata tua yang selalu mengundang iba, menatap dagangannya. Masih bertumpuk. Hari mulai beranjak siang. Sebuah anggukan ia berikan. Menyerah pada keadaan. Hidup, tak memberinya banyak pilihan.

Dan tangan tua keriput itu mulai menyisik ikan. Ujung jari melepuh terlalu lama terkena air. Beberapa luka di jari tertusuk tajamnya duri ikan, cukuplah sebagai bukti, bahwa kehidupannya bukanlah kehidupan manis bertabur mawar melati.

Dunia,

Kenapa kita sedemikian kejam pada orang yang lemah? Mengapa di sebagian semesta diri, kita begitu puas jika berhasil memenangkan penawaran pada orang orang yang sudah terseok-seok mencari makan?

Apa yang kita dapat dari hasil menawar ? 3 atau 5 ribu?

Akan kaya kah kita dgn uang segitu? TIDAK.

Uang mungkin terkumpul, tapi keberkahan hidup nggak akan didapat. Bisa jadi, saat memasak, lupa, lalu gosong dan terbuang, kerugiannya lebih dari 5 ribu. Atau bisa jadi, saat masakan udah matang, anak anak malah kehilangan selera makan, dan minta dibelikan ketoprak atau apalah, sehingga uang yg 5 ribu tadi abis juga, capek memasak nggak dihargai oleh anggota keluarga.

Apalagi menawar dengan bahasa yg tidak baik. “ikan kayak gini, udah nggak segar, ikan kayak gini, sisa-sisa udah jelek begini,”

Omongan adalah doa. Setelah deal membeli, bisa jadi ikan itu memang membawa pemakannya menjadi tidak segar, atau ikan itu membawa kejelekan bagi pemakannya. Hati hati dengan lisanmu, doa seseorang menggetarkan langit, kalimat yg burukpun bisa menggetarkan langit.

Aku belakangan ini mencoba konsisten menerapkan untuk tidak pernah menawar pedagang kecil. Dengan menulis ini, saya bukannya tidak paham dengan konsekuensi, akan banyak yg menilai “ahh amal baik kok di publikasikan, riya', nggak dapat pahala,”

Baik, soal pahala atau tidak, biarlah menjadi urusan Allaah. kalau karena menuliskan hal ini, aku dianggap riya, lantas kehilangan pahala atas hal itu, aku ikhlas. Hanya berharap, semoga tulisan ini mampu membelai banyak hati yang lain, kemudian menjadi konsisten untuk tidak pernah lagi menawar ke pedagang kecil.

Mari kita mulai, membangun perekonomian pedagang kecil.

Saat kita masih meringkuk di kamar ber AC, jam 3 dini hari, kala tubuh masih dibalut oleh selimut wangi dan jiwa dibuai mimpi, ibu tua pedagang ikan itu sudah berkubang dengan aroma ikan, mengangkat ikan berbaskom baskom, menyentuh es batu, mengeluarkan isi perut ikan, dll. Sungguh bukan kehidupan yang gampang.

Apa ruginya kalau kita melebihkan bayaran, atau minimal, tidak menawar atas harga yg telah dia tetapkan.

Dalam hidup, aku merasakan, selalu di beri kejutan kejutan oleh Allaah, Sang Pemilik seluruh kerajaan.

Dalam 3 hari ini, Karena sibuk kerja, menulis, menjaga anak –anak, aku nggak sempat upload foto gamis jualanku, namun seseorang tetap membeli 3 potong gamis yg dulu pernah aku upload, transaksi 1.620.000. Aku dapat untung 120ribu. Alhamdulillaah. Tapi Allaah melimpahkan cintaNya dengan menggerakkan hati si pembeli gamis untuk mentransfer lebih. yg dia transfer 2.2 juta. Untung 120ribu berubah menjadi 700 ribu.

Tadi pagi, pembeli buku dari banjar masin, mentransfer 300ribu, seharusnya hanya 121ribu. Lagi lagi, Allaah mengirim sayang-Nya dengan cara tak terduga.

Apakah rejeki hebat ini buah dari doa-doaku?

Belum tentu.

Ini bisa jadi, adalah doa dari ibu si tukang ikan, atau bapak penjual tahu, atau ibu tukang giling bumbu, atau bapak tua penjual pisang,dll yang pernah bertransaksi jual beli dengan ku.

Saat kita tak menawar, mereka ikhlas bilang “terima kasih”.

“terima” dan “kasih”. Mereka menerima. Lalu malaikat menerbangkan doa mereka, mengetuk pintu langit, dan kita kelimpahan “kasih-Nya”.

Bukankah sudah jelas, tak ada sekat antara dhuafa dengan Rabb-nya, bahwa doa kaum dhuafa, doa orang yg papa, adalah doa yang mampu mengetuk pintu langit.

Lantas kenapa kita mampu memberi kado pada teman yg melahirkan seharga ratusan ribu, atau membelikan kado ulang taun ratusan ribu pada anak teman yg merayakan ulang taun di mall , bukankah mereka sudah kaya, kado kado ratusan ribu itu mereka bisa membeli sendiri.

Sementara kita begitu berhitung pada mereka yg telah menggadaikan jam tidur dan tenaga, mereka yang terseret seret oleh arus nasib kejamnya jaman untuk sekedar mencari uang sebagai bekal pelanjut hidup.

Aku sangat yakin pada seluruh ajaran dalam nilai yang aku imani. Ketika kita memudahkan urusan orang, Allaah akan memudahkan urusan kita. Ketika kita memberi satu, Allaah akan membalas ratusan kali lipat. Balasan rejeki tak hanya dalam bentuk materi yg terukur. Bisa dalam bentuk hati yg selalu gembira. Meski sederhana, tapi hati nggak pernah gundah. Nggak pernah grasak grusuk cemas panik sampai menyerobot rejeki orang. Meski pas pasan, tapi makan enak, tidur sealu nyenyak, itu adalah rejeki yang tak terbilang harganya.

Buktikan saja. Jangan sesekali menawar pedagang kecil. Selalu mudahkan urusan orang lain. Jangan abiskan waktu untuk tawar menawar sampai alot, simpan waktu dan tenagamu untuk hal-hal yg lebih bermanfaat. Waktu buat tawar menawar dipangkas, jadikan itu waktu untuk bersujud di kala dhuha, atau untuk membaca alquran agar tentram jiwa dan raga.

Soal rejeki, kejarlah dengan cara yg baik. Serahkan hasilnya hanya pada Allaah semata.

Soal menghemat, bukan dengan cara menawar keras pedagang kecil, jangan ditawar, maka Allaah akan aktif mengisi ‘tabungan’ kita.

Dan kita akan dibuat takjub oleh cara ‘tangan’ Allaah bekerja.

Akan banyak kejutan cinta dari Yang Kuasa.

yakin seyakin yakinnya, karena Allaah, tak pernah sekalipun ingkar janji..( tp berusaha luruskan niat ya. Urusan reward dan pahala biar jd urusan Allah )

Sumber : Fitra Wilis Masril

11 Aug 2015

Bersyukur Tak Cukup Hanya Dengan Lisan


Demi mensyukuri nikmat Allah dan melihat kebesaran-Nya, gunung-gunung didaki, tak peduli seberapa jauh dan seberapa lelah perjalanan yang dilalui. Beribu-ribu Mdpl puncak gunung dijalani tanpa rasa lelah karna semangat yang menggelora. Dinginnya malam di puncak gunung tak terlalu menjadi masalah karna semangat berjumpa mentari di waktu pagi.

Sedangkan ke masjid di dekat rumah, kosan, atau kontrakan yang tak sampai berhari-hari untuk sampai di sana, yang tak harus bermandi keringat untuk menginjakkan kaki di tangga pertamanya, yang tak harus memakai jaket super tebal ketika suara adzan Subuh mengajak kita untuk berjama'ah di sana. Kita justru lebih merasa enggan untuk hadir ke masjid.

Semangat 'menaklukkan' puncak gunung mengalahkan gairah kita memakmurkan masjid! Apa itu yg disebut mensyukuri nikmat Allah?

Pun demikian saat menonton acara televisi favorit kita, atau bermain game kesukaan kita, atau saat 'khusyu' dengan gadget dan media sosial kita. Berjam-jam waktu yang kita gunakan tak terasa lamanya. 

lantas, saat mengikuti sholat tarawih berjama'ah? Saat mendengarkan khatib berkhutbah waktu jum'at?

Satu jam waktu mengikuti sholat tarawih berjama'ah atau saat mendegarkan khutbah yg disampaikan khatib sungguh terasa begitu lama, teramat lama. Mengalahkan berjam-jam waktu yg kita pakai untuk menonton acara televisi dan bermain game favorit kita! Apa itu yg disebut mensyukuri nikmat Allah?

Mensyukuri nikmat-Nya bukan sekedar bersyukur dengan lisan, melainkan bersyukur dengan hati dan anggota tubuh. Meyakini dan mengakui bahwa segala kenikmatan yang kita dapatkan semua berasal dari Allah semata, dan mempergunakan kenikmatan-kenikmatan itu untuk melaksanakan berbagai ketaatan kepada-Nya.

13 Nov 2014

Biar Sedikt Tapi Halal

Oleh: Prof Yunahar Ilyas

Dalam suatu perjalanan dakwah ke suatu daerah, saya dijemput ke bandara dan diantar ke beberapa tempat acara menggunakan mobil panitia dari salah satu perguruan tinggi swasta.

Dalam suatu kesempatan, saya sempat berbincang dengan sopir kampus yang tampak masih muda. Badannya tinggi tegap, sikapnya sopan dan ramah.

“Sudah berkeluarga, Dik?” sapa saya.

“Sudah, Pak. Alhamdulillah sudah punya dua anak,“ ujarnya.

Walaupun dia membawa mobil agak cepat, tetapi tetap penuh waspada. Dia tidak pernah menyalip mobil lain secara sembarangan. Memastikan lebih dahulu bahwa jalur yang berlawanan kosong.

Saya kembali bertanya untuk sekadar ingin tahu apakah dia sudah lama bekerja di kampus itu. “Belum, Pak, baru dua tahun,“ jawabnya singkat sambil tetap konsentrasi.
“Sebelumnya kerja di mana?” selidik saya.

“Saya bekerja di sebuah kota pelabuhan di Jawa, Pak. Kerja dengan paman, mengisi bahan bakar untuk kapal-kapal barang. Penghasilannya besar Pak, tapi…” ujarnya seakan ragu untuk melanjutkan.

Saya jadi penasaran, ingin tahu mengapa dia meninggal kan pekerjaan yang penghasilannya besar itu. Padahal saya tahu, jadi sopir kampus yang tidak besar, paling tinggi gajinya sedikit di atas UMR.

“Uangnya banyak Pak, tetapi tidak halal. Paman saya suka kongkalikong dengan kapten kapal,” ujarnya.

Ia akhirnya bercerita soal pekerjaannya. Menurut dia, bahan bakar yang diisikan tidak sebanyak yang ditulis di faktur. Selisihnya banyak. Sebagai petugas pengisian, dia tahu permainan itu. Sudah tentu, dia akan dapat bagian setiap pengisian selesai. Bahkan, jumlahnya bisa mencapai jutaan rupiah.

Namun demikian, dengan penghasilan yang sangat besar itu, dia tidak tenang. Hidupnya selalu dihinggapi perasaan bersalah. Dia gelisah. Dia pun menanyakan soal itu kepada pamannya dan sang paman mengakui bahwa itu tidak ha lal.

Untuk membersihkan uang itu, sang paman mencoba bersedekah. “Uang haram tidak bisa dibersihkan dengan uang haram juga,” kata saya mengingatkan.

Nabi Muhammad SAW menyatakan, yang kotor tidak bisa membersihkan yang kotor. Sopir muda itu membenarkan ucapan saya.

“Memang Pak, saya juga meyakini demikian. Tetapi, paman saya yakin sekali dosa-dosanya menipu pemilik kapal akan diampuni dengan banyak menyumbang. Bahkan Pak, tahun lalu paman saya bangun masjid sendiri di kampung dengan uang haram itu.“

Akhirnya, setelah mengetahui semua itu, sopir muda ini pun meninggalkan pekerjaan-nya. Ia tidak ingin perbuatan itu terus berlangsung dan menipu orang. Ia pun sudah mencoba beberapa pekerjaan, namun belum berhasil sehingga dia sementara bekerja sebagai sopir.

“Sekalipun gajinya kecil, tetapikan halal Pak. Sedikit tetapi membawa ketenangan, dan berkah,“ ujarnya.

Hebatnya lagi, walau dengan gaji kecil, tapi keluarganya menerimanya. Demikian juga istri dan anak-anaknya. “Alhamdulillah, istri saya sependapat dengan saya, biarlah kita hidup sederhana sekali, tetapi hati tenang, anak-anak juga dihidupi dengan rezeki yang halal.”

Saat ini, yang menjadi pikirannya adalah sang paman. Ia ingin pamannya bertobat dan menyadari kekeliruannya.

“Semoga paman segera mendapatkan hidayah,” harapnya.

Sumber: 

25 Jun 2014

Rahasia Kemakmuran adalah Kedermawanan

"Rahasia kemakmuran adalah kedermawanan, karena dengan membagi kepada orang lain, hal baik yang akan diberikan dalam kehidupan kita, bahkan berkelimpahan." -- J. Donald Walters

KISAH nyata ini keluar dari mulut Sang Dokter. Pria yang sehari-hari berprofesi sebagai dokter mata ini membuka prakteknya di bilangan Rawamangun, Jakarta Timur. Selain itu, ia juga melayani konsultasi masalah keluarga, termasuk masalah spiritual. Tanpa dipungut biaya, alias gratis. Sang dokter menolak dengan halus setiap pemberian uang sebagai imbalan jasa konsultasi. Ia malah menyarankan agar uangnya diberikan kepada mereka yang benar-benar membutuhkannya, seperti yayasan yatim piatu.

Suatu hari, sang dokter kedatangan tamu seorang ibu beserta putranya yang telah menginjak usia paruh baya. Sang anak dalam keadaan lumpuh kakinya, sehingga ia harus berada di kursi roda. Maksud kedatangan mereka sesungguhnya ingin menanyakan seputar masalah keluarga. Tetapi begitu tiba di ruang dokter, sebelum menyampaikan keluhannya, sang dokter mengatakan bahwa ada sesuatu yang salah terhadap si anak. Putranya, menurut sang dokter, pernah mempunyai kesalahan yang membuat ibunya sakit hati. Sang anak tentu saja kebingungan. Begitu pula sang ibu, yang tahu-tahu diungkit peristiwa di masa lalu. Sang anak mencoba mengingat-ingat kembali peristiwa masa lampau. Sang ibu memang mengakui kalau ia dulu pernah sakit hati oleh tindakan anaknya. Hal itu terus membekas di hatinya menjadi goresan luka batin, yang akhirnya teringat kembali saat itu juga.

Akhirnya, sang anak pun teringat akan kekilafannya. Ia menyesal dan menangis. Secara susah payah, sang anak berusaha bangkit dari kursi rodanya untuk bersimpuh di hadapan kaki ibunya meminta maaf. Ibunya, dengan berlinang air mata, secara tulus akhirnya memaafkan kesalahan putranya di masa lampau. Secara refleks, sang ibu mengangkat putranya berdiri untuk memeluk dan menciumnya. Ajaib, seketika itu juga sang anak dapat berdiri tanpa dibantu lagi oleh kursi roda. Sang ibu memang hanya memberikan maaf dengan tulus, tetapi efeknya sungguh luar biasa.

Kisah ini memang bertolak belakang dengan legenda Malin Kundang. Dimana sang Ibu menyumpah anaknya menjadi batu. Tak ada batu berbentuk manusia. Itulah logika yang paling benar dari cerita yang menyangkut hubungan ibu dan anak. Kisah Malin Kundang selama ini oleh beberapa pihak dinilai jauh dari cinta kasih seorang ibu yang sebenarnya. Walau begitu, tetap ada hikmah yang dapat dipetik dari legenda tersebut.

Sejatinya, Ibu mana yang tega melihat anaknya susah, apalagi menjadi batu sesuai dengan sumpahnya. Alamak, Ibu adalah pintu keluasan hati dan penuh maaf. Berkacalah pada ibu. Dia akan rela lebih menderita, ketimbang melihat anaknya yang kesusahan. Dia akan menyisihkan nasi yang ada untuk anaknya, walau ia sendiri lapar. Dia akan memakan makanan yang bergizi agar janin dalam tubuhnya bisa tumbuh sehat. Seperti dalam bait lagu, 'hanya memberi, tak harap kembali.' Betul, tak pernah berharap mendapatkan balasan dari semua yang telah dilakukannya. Itulah makna dari memberi yang sesungguhnya.

Memberi? Betul, memberi. Makna dari sebuah pemberian memang besar artinya. Lantas, mengapa orang yang berkelimpahan enggan untuk memberikan sesuatu? Atau, mengapa orang enggan memberikan maaf? Karena mungkin ia berpikir, bila ia memberi kekayaan, pemberian itu akan habis begitu saja tanpa kembali. Atau mungkin ia berpikir, harga dirinya akan turun kalau ia memberikan maaf kepada orang yang menyakitinya. Padahal justeru sebaliknya. Semakin banyak memberi, akan lebih semakin banyak menerima. Kalau orang mengetahui kekuatan memberi, percayalah, akan banyak orang yang berlomba-lomba untuk memberikan segala sesuatunya.

Itulah mengapa, dalam setiap agama selalu diajarkan untuk memberikan sesuatu yang kita miliki. Selain diajarkan selalu memberikan kebajikan, juga kekayaannya. Umat Islam mengenal Zakat dan Sedekah. Umat Kristen Protestan mengenal perpuluhan, yaitu kewajiban untuk memberikan sepersepuluh dari pendapatannya kepada rumah Tuhan, dan Elemosune, yang dapat diterjemahkan dengan kata memberi sedekah. Umat Katholik mengenal Persepuluhan dan juga Sedekah. Umat Hindu mengenal Sedekah Dana Punia, yaitu pemberian yang dilakukan secara sukarela dan tulus ikhlas berupa materi. Sedangkan Buddha mengajarkan bagaimana menggunakan kekayaan yang telah dimiliki, yaitu bila ia perumah tangga yang baik, mengumpulkan harta dengan cara-cara baik, ia harus membantu sanak familinya, serta orang lain dalam empat bagian, juga dikenal Amisa Dana, yaitu memberikan bantuan dalam bentuk materi kepada yang membutuhkan.

Pemberian itu seyogianya dilakukan dengan ikhlas, diberikan pada tempat dan waktu yang tepat. Juga pemberian itu haruslah bertujuan mulia. Yang patut diingat, memberi tak harus berupa uang. Ia bisa berupa apa saja. Sekarang, tengoklah lemari pakaian Anda. Apa yang Anda lihat? Tentu saja sederetan pakaian yang Anda miliki. Nah, ambil sebanyak mungkin. Bila perlu semuanya, untuk kemudian Anda serahkan kepada mereka yang membutuhkannya, misalnya yayasan yatim piatu. Kalau merasa sayang, sisakan beberapa setel saja untuk Anda pakai dalam bekerja selama satu minggu atau untuk Anda pakai sehari-hari. Tak perlu banyak berpikir. Pakaian itu mungkin sudah ketinggalan jaman. Anda perlu memberi lagi yang baru.

Sebuah penelitian menunjukkan, dengan memberi terhadap sesama, membuat diri kita menjadi lebih bahagia. Hukum kekekalan energi mengatakan, tiada energi yang hilang bila dikeluarkan. Ia akan kembali dalam bentuk lain. Begitu pula soal kebaikan, apapun. Ia tak akan hilang walau Anda telah memberikannya. Bahkan Deepak Chopra dalam '7 Spiritual Law of Success' mencantumkan 'Law of Giving' sebagai hukum kedua untuk sukses.

Nah, mulai sekarang, banyak-banyaklah memberi. Memberi maaf. Memberi senyum. Memberi kebajikan. Memberi kemuliaan. Memberi materi. Dan sebaiknya, tak usah berharap dari semua pemberian yang telah Anda lakukan. Karena itulah kebahagiaan sesungguhnya yang didapatkan. Kebahagiaan memberi. Seperti yang dilakukan ibu terhadap kita: hanya memberi, tak harap kembali. 

Sumber: Kekuatan Memberi oleh Sonny Wibisono 

2 Jun 2014

Cukup itu Berapa?

Alkisah, seorang petani menemukan sebuah mata air ajaib. Mata air itu bisa mengeluarkan kepingan uang emas yang tak terhingga banyaknya. Mata air itu bisa membuat si petani menjadi kaya raya seberapapun yang diinginkannya, sebab kucuran uang emas itu baru akan berhenti bila si petani mengucapkan kata "cukup".

Seketika si petani terperangah melihat kepingan uang emas berjatuhan di depan hidungnya. Diambilnya beberapa ember untuk menampung uang kaget itu. Setelah semuanya penuh, dibawanya ke gubug mungilnya untu k disimpan disana.

Kucuran uang terus mengalir sementara si petani mengisi semua karungnya, seluruh tempayannya, bahkan mengisi penuh rumahnya.
Masih kurang!

Dia menggali sebuah lubang besar untuk menimbun emasnya. Belum cukup, dia membiarkan mata air itu terus mengalir hingga akhirnya petani itu mati tertimbun bersama ketamakannya karena dia tak pernah bisa berkata cukup.

Kata yang paling sulit diucapkan oleh manusia barangkali adalah kata "cukup".

Kapankah kita bisa berkata cukup?

Hampir semua pegawai merasa gajinya belum bisa dikatakan sepadan dengan kerja kerasnya.
Pengusaha hampir selalu merasa pendapatan perusahaannya masih dibawah target.
Istri mengeluh suaminya kurang perhatian.
Suami berpendapat istrinya kurang pengertian.
Anak-anak menganggap orang tuanya kurang murah hati.
Semua merasa kurang dan kurang.

Kapankah kita bisa berkata cukup?

Cukup bukanlah soal berapa jumlahnya.
Cukup adalah persoalan kepuasan hati.
Cukup hanya bisa diucapkan oleh orang yang bisa mensyukuri.

Tak perlu takut berkata cukup.

Mengucapkan kata cukup bukan berarti kita berhenti berusaha dan berkarya.
"Cukup" jangan diartikan sebagai kondisi stagnasi, Mandegdan berpuas diri. Mengucapkan kata cukup membuat kita melihat apa yang telah kita terima, bukan apa yang belum kita dapatkan.
Jangan biarkan kerakusan manusia membuat kita sulit berkata cukup.
Belajarlah mencukupkan diri dengan apa yang ada pada diri
kita hari ini, maka kita akan menjadi manusia yang berbahagia.

Belajarlah untuk berkata "Cukup"...

Sumber:
last-inspiring.blogspot.com

20 Jun 2013

Sedekah Indah Seorang Dokter


Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... 

Di satu tempat di Jakarta ada rumah yang bisa dibilang cukup mewah. Rumah itu adalah kediaman keluarga dr. Juni Tjahjati. Selain sebagai tempat tinggal, rumah itu sehari-hari dipakai Juni sebagai tempat praktek. Banyak pasien berobat setiap hari ke sana yang kadang membuat tukang parkir harus ekstra keras mengatur kendaraan.

Jika kita berdiri tepat menghadap rumah itu dari seberang jalan tampaklah dua buah hiasan berbentuk pagar kecil bersusun di atap rumah. Di bagian tengah pagar besi yang tidak memagari apapun itu terpampang lambang cinta berbentuk hati dicat warna emas. Lambang itu seperti ingin berkata bahwa semua aktivitas dalam rumah dan tempat praktek itu didasari oleh cinta.
Tanpa ragu, dokter itu membantu tetangganya yang dioperasi di rumah sakit. Semua biaya ia tanggung. Hidupnya pun tampak berkah dan berlimpah rezeki.

Beberapa tahun lalu, seorang laki-laki bernama Mustofa datang ke rumah itu. Ia menggigil kedinginan. Ia baru pulang dari Bogor, memenuhi undangan kawannya untuk memancing. Sebuah kecelakaan kecil terjadi: kakinya tertusuk bambu.

Mustofa adalah tetangga Juni, sehari-hari berjualan es jus sambil menjadi tukang parkir di tempat praktek itu. Seorang dokter menanganinya dengan memeriksa dan memberi obat.

“Waktu itu dokter Juni sedang keluar negeri,” ujar Mustofa.

Pengobatan diberikan kepada Mustofa secara cuma-cuma. Ia dapat kembali pulang dengan tenang. Tapi seminggu kemudian ia kembali datang karena ia mulai merasakan sakit yang lebih parah.

Mustofa sulit menggerakkan mulut dan menelan makanan. Juni yang sudah pulang langsung memberi pertolongan. Bapak empat anak itu disuntik dua kali, diberi obat dan disuruh balik lagi beberapa hari kemudian. Menyadari kemungkinan Mustofa menderita tetanus, Juni melakukan operasi kecil, mengeluarkan potongan bambu kecil yang tertanam di kaki Mustofa.

Tapi beberapa hari kemudian, Mustofa semakin parah karena racun tetanus ternyata sudah menjalar ke tubuhnya menginfeksi syaraf dan ototnya hingga kaku dan tak bisa digerakkan.

Juni kemudian bertindak cepat dengan membawa Mustofa ke rumah sakit agar bisa dirawat dengan fasilitas lebih memadai. Ia tak bisa mengiringi tetangganya itu tapi mengontak teman-temannya yang ada di rumah sakit agar Mustofa ditangani dengan baik.

“Jangan ditinggal sebelum Pak Mus dapat ruang inap dan ditangani dokter,” ujar Juni kepada supirnya yang mengantar.

Mobil pun melaju ke RSCM (Rumah Sakit Cipto Mangunkusomo) Jakarta. Di RSCM ada suami Juni, dr. Ismail, seorang ahli Ortopedi, yang sehari-hari berpraktek dan mengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Tapi, ternyata., RSCM tak ada ruangan kosong. Mustofa lalu dilarikan ke RS Persahabatan. Kembali tak ada ruang kosong. Ismail lalu mengontak koleganya di RS Fatmawati. Ada ruang kosong di rumah sakit itu. Mustofa langsung dibawa ke sana.

“Sampai di sana, saya langsung disambut dokter dengan hormat. Sepertinya dokter itu teman baik dr. Juni atau suaminya, dr. Ismail,” ujar Mustofa mengenang.

Sampai di Fatmawati Mustofa tak sadarkan diri. Ia dirawat berhari-hari di sana sampai kesadarannya pulih. Dalam sakitnya itu, Mustofa ditunggui oleh istrinya.

Setelah beberapa hari di rumah sakit, datanglah lembar tagihan berobat. Mustofa dan istrinya terkaget-kaget, karena di situ tertera angka 13 juta rupiah. Tentu saja ia tak memiliki uang sebesar itu apalagi ia belum pulih benar. Perlu beberapa hari lagi untuk menginap agar ia bisa pulih sampai sediakala.

Tapi, rupanya, kecemasan itu hanya terjadi sesaat saja, sebab rupanya dr. Juni sudah menangung biaya berobat Mustofa. Tak terbilang rasa terima kasih Mustofa dan istrinya. Apalagi Juni juga turut menjenguk Mustofa dan bahkan memberi istri Mustofa uang untuk pegangan selama menunggui suaminya dirawat.

“Saya tak punya uang sepeser pun. Semua biaya ditanggung dokter Juni.
Saya tak tahu berapa jumlah pastinya. Tapi kira-kira 20 juta rupiah,” ujar Mustofa mengenang sambil terharu.

Mustofa sampai tak habis pikir kenapa ada orang sebaik itu. Ia hanya tetangga dan bukan saudara. Bisa dikatakan ia juga hidup dari dr. Juni karena ia berjualan es di depan Praktek dr.Juni, selain memarkir kendaraan. Ia tak dimintai uang sedikit pun berjualan di depan tempat praktek itu seperti yang lazim terjadi. Bahkan ia juga tak dimintai uang listrik, padahal sehari-hari ia memakai listrik untuk blender es jus.

Saat anak nomor tiganya menderita kecelakaan, kembali Juni dengan ringan membantu Mustofa. Waktu itu, anak Mustofa tertabrak kendaraan bermotor dan kakinya patah. Kaki anak berusia 6 tahun itu diberi pen yang diukur sendiri oleh suami dr. Juni. Kembali Mustofa tak membayar sepeserpun biaya pengobatan itu karena semua ditanggung dr. Juni.

Berkah Sedekah ...

Sekalipun menolak untuk membeberkan lebih lanjut, sedekah memang merupakan amal yang masyhur dilakukan Juni. Ini diakui pula oleh para warga di sekitar rumahnya. Tangannya begitu ringan menolong. Kadang ada kaum dhuafa yang berobat dengan membayar semampunya atau gratis sama-sekali.

Jika melihat kehidupan Juni yang dilimpahi rezeki benarlah ungkapan al-Qur’an dalam surat al-Baqarah ayat 256 yang menyebut bahwa

... “Perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.” ...

Tempat prakteknya tampak ramai, membuat rezekinya seakan tidak pernah putus. Pasien yang berobat di sana juga sangat senang karena diobati dengan penuh perhatian.

Selain itu, Juni juga memiliki beberapa kendaraan dan perusahaan yang ia kelola di bidang kesehatan, makanan, laboratorium, penyewaan gedung, perawatan kecantikan, dan lain sebagainya.

Dahulu, sebelum meraih semuanya, Juni malah hidup sederhana; berbisnis salon dan membuka toko sepatu karena ia merasa tak patut mencari uang berlebih dari pengabdiannya sebagai dokter.

Satu hal yang patut dicontoh adalah Juni tampak enggan untuk menceritakan itu semua. Baginya itu hal biasa saja. “Kebetulan saya bisa membantu, ya saya bantu,” ujarnya.

Saat masih menjadi dokter puskesmas di daearah Jawa Timur tahun 90-an, Juni juga sudah sering bersedekah. Ia bahkan pernah mengobati pasien yang memerlukan transfusi darah dengan mengambil darahnya sendiri.

Lagi-lagi jika ada pasien yang tak mampu dan perlu dirujuk ke rumah sakit, ia bersedia mengantarkan dengan menggunakan biaya akomodasi dari dirinya sendiri.

Menolong sepertinya sudah menjadi etika utama dokter ini. Semua hal dikebelakangkan dan keselamatan pasienlah yang diutamakan.

“Ada perasaan lega dan senang jika pasien yang kita tolong bisa selamat, dan bisa berbagi itu merupakan satu kenikmatan sendiri,” ujar Juni.

Tak hanya itu, Juni juga kerap mengalamatkan sedekah pada pembangunan masjid. Beberapa masjid sudah ia sumbang. Ada di antaranya yang dibangun bagi kaum pinggiran di wilayah Tebet, Jakarta Selatan.

Banyak orang yang memiliki penghasilan besar, namun selalu merasa tidak cukup. Bahkan tidak jarang pengeluaran mereka lebih besar dari penghasilan yang didapat. Tapi itu tak berlaku jika melihat kehidupan dr. Juni. Rezeki seperti mengalir deras padanya, dari berbagai jalan, karena setiap rezeki yang ia dapatkan juga ia sedekahkan kemana-mana.

... “Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat, maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).” ...

Demikian Allah berkata dalam firman-Nya (Q.s. al-An'am: 160) ..

Jadi, sebetulnya, setiap harta yang kita sedekahkan justru akan kembali dengan berlipat ganda. Satu dikurang satu sama dengan sepuluh, bukan nol. Itulah rumus sedekah. Dengan memberi, seseorang akan mendapatkan lebih banyak, tidak berkurang atau habis.

Subhanallah ...
Wallahu A'lam bishawab ..


18 Jun 2013

The Magic of Syukur

Di dalam al-Qur’an surat Ibrahim ayat 7 Allah menegaskan:

Dan (ingatlah), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".

Siapa yang bersyukur akan diberi keberlimpahan. Mafhum mukholafahnya, siapa yang tidak bersyukur, maka apa-apa yang dimiliki akan di ambil darinya. Rasa syukur akan membawa seorang hamba merasakan indahnya kehidupan, tidak seperti orang-orang kufur yang selalu merasa tersiksa hidupnya.

Penelitian Dr. Masaru Emoto juga membuktikan keajaiban kalimat syukur –seperti ia tulis dalam bukunya The True Power of Water. Jika kita memperdengarkan “terima kasih” kepada air, maka molekul airnya membentuk kristal-kristal yang indah dan mempesona. Bukankah tubuh kita juga 75 persennya terdiri dari air? Otak juga mengandung 74,5% air. Darah kita pun mengandung 82% air. Bahkan tulang yang keras pun mengandung 22% air.

Subhaanallah, betapa hebatnya tubuh manusia jika setiap detik, menit, dan jamnya selalu dihiasi dengan kalimat syukur, alhamdulillah.

Syukur jika dilihat dari hukum Newton, maka bunyinya setiap ‘aksi’ memberi syukur selalu menyebabkan ‘reaksi’ menerima. Apa yang anda terima selalu setara dengan jumlah syukur yang anda berikan. Semakin tulus serta mendalam perasaan syukur anda, semakin banyak anda akan menerima keberlimpahan. Nabi Muhammad bersabda bahwa bersyukur atas keberlimpahan yang telah anda terima adalah jaminan terbaik bahwa kelimpahan akan berlanjut.

Dalam hukum law of attraction disebutkan bahwa kita harus selalu berpikir positif, karena berpikir positif merupakan energi positif yang apabila kita memikirkan atau merasakan hal positif maka hasilnya kita akan menarik kejadian, orang dan hal positif kedalam kehidupan kita. Apa yang anda pikir dan rasakan akan menariknya pada diri anda. Jika anda berfikir negatif, maka seluruh hal yang negatif akan tertarik pada diri anda. Begitu juga sebaliknya, jika anda memikirkan apa yang anda syukuri dan anda benar-benar merasakan syukur itu, maka pasti anda menarik banyak pengalaman positif dalam hidup anda seperti logam yang tertarik pada magnet.

Syukur anda adalah magnet dan semakin banyak syukur yang anda miliki, maka semakin banyak kelimpahan yang akan anda tarik.

Ada 3 hal yang akan dirasakan oleh para ahli syukur:
Pertama, orang yang bersyukur akan ditambah nikmatnya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini merupakan janji Allah dalam Al Quran, barang siapa yang bersyukur maka Allah akan menambahkan lagi kenikmatan padanya, sebaliknya apabila seseorang tersebut kufur, maka Allah menjanjikan azab yang sangat pedih bagi siapa saja yang melakukannya.

Kedua, orang yang bersyukur akan merasakan ketenangan dan kebahagiaan hidup. Tidak sibuk memikirkan apa yang menjadi milik orang lain, berbahagia dengan karunia yang telah diberikan Allah kepadanya.

Ketiga, rasa syukur akan membuat si pelakunya efektif dalam menjalani hidup. Ia akan fokus dengan apa yang menjadi tujuannya. Tidak disibukkan mengurusi orang lain, nikmat orang lain yang didapatkan tidak membuat si ahli syukur merasa iri hati atau berniat memilikinya. Ia mencukupkan dirinya terhadap apa yang sudah dikaruniakan Allah Subhanahu wa Ta’ala pada dirinya.

Kebanyakan orang jika ditanya, apakah anda orang yang bersyukur? Anda pasti akan menjawab? Ya tentu saja saya orang yang bersyukur. Saya mengucapkan terimakasih ketika menerima hadiah, atau ketika seseorang melakukan sesuatu untuk saya. Banyak orang yang tidak tahu apa arti sesungguhnya dari bersyukur. Salah satu cara untuk mengaplikasikan rasa syukur adalah dengan mempraktikkan syukur tiap hari. Efek dari rasa syukur yang dipraktikkan hidup anda akan berubah, dan semakin anda mempraktikkan syukur, semakin ajaib hasilnya. Siapapun kita, di manapun kita berada, apa pun situasi kita saat ini, keajaiban syukur akan mengubah seluruh hidup kita. Ketika anda mempraktikkan syukur, anda akan mengerti mengapa hal-hal tertentu di dalam hidup anda tidak berjalan sesuai harapan anda, dan mengapa hal-hal tertentu tidak ada dalam kehidupan anda. Ketika anda menjadikan syukur sebagai cara hidup, setiap pagi anda akan bangun dengan sangat gembira karena masih diberi kesempatan hidup untuk selalu memperbaiki kualitas kehidupan kita. Segala sesuatu akan tampak lebih mudah.

Fakta:
Jika anda tidak bersyukur, anda tidak bisa menerima lebih banyak hal yang bisa disyukuri. Anda telah menghentikan keberlanjutan keajaiban dalam hidup anda. Jika tidak bersyukur, anda menghentikan aliran kesehatan yang lebih baik, relasi yang lebih baik. Untuk menerima anda harus memberi. Inilah hukumnya syukur adalah memberi terimakasih dan tanpanya anda memutus sendiri dari keajaiban dan dari menerima segala sesuatu yang anda inginkan di dalam hidup anda.

Rumus Ajaib:
Pengetahuan adalah harta, tetapi memperaktekkannya adalah kunci dari harta itu.
Ibnu Khaldun mengatakan dalam al-Muqoddimah:

Sengaja berfikir dan mengucapkan kata-kata ajaib, terimakasih. .
Semakin anda sengaja berfikir dan mengucapkan kata-kata ajaib terimakasih, semakin besar syukur yang anda rasakan.
Semakin banyak syukur yang anda pikir dan rasakan, semakin banyak kelimpahan yang anda terima. Syukur adalah perasaan, jadi tujuan utama memperaktikkan syukur adalah sengaja merasakannya sebanyak mungkin, karena kekuatan perasaan andalah yang mempercepat keajaiban di dalam hidup anda.

Jika anda sedikit memperaktekkan syukur, hidup anda akan sedikit berubah.
Jika anda memperaktekkan banyak sukur setiap hari, hidup anda akan berubah dengan dramatis dan melalui cara-cara yang tidak bisa anda bayangkan.

Semoga kita semua termasuk golongan ahli syukur, aamiin...


13 Jun 2013

Jika Sudah Menjadi Seorang Isteri

Jadikanlah suamimu yang paling paling utama setelah Tuhanmu.
Jadikanlah suamimu yang paling paling engkau taati dibandingkan Ayah Ibumu.

Jadikan ridha suamimu yang paling engkau harapkan dibandingkan Ayah Ibumu.
Ketauhilah bahwa suamimu adalah jaminan surga bagimu.

Ingatlah jika ada sikap, ucapan serta perbuatanmu yang membuat suamimu marah. Maka segeralah memohon maaf kepadanya.
Agar Allah tak ikut murka karena ulahmu.

Pancarkan aura kasih sayang penuh kelembutan dari wajahmu.
Lontarkan kata-kata penyejuk jiwa penuh doa untuk suamimu.
Berikan sentuhan-sentuhan mesra dari tangan halusmu.
Tunjukkan bahwa dirimu adalah mahkota bagi suamimu.
Agar dari rahimmu lahirkan buah hati yang akan taat beragama.

Sungguh suamimu adalah tempat dirimu melahirkan sakinah (ketenangan).

Suamimu adalah laksana benteng pelindung bagimu dan anak-anakmu.
Suamimu adalah sumber kebahagiaan dalam keluargamu.
Suamimu adalah sumber kemuliaan dan yang akan mengangkat derajatmu di hadapan-Nya.

Dan ridha suamimu adalah penentu ridha Allah terhadapmu.
Yang akan menjadi kendaraanmu menuju singgasana Surga-Nya.

Amin Allahumma Amin.

12 Jun 2013

Hanya Kepada-MU


Ya Rabbi,,
Sebelum ajal menjemput diri ini,
Sucikan batin dari jerat birahi,
Dengan menyebut kalam Illahi,
Memohon ampun kepada-Mu ya Rabbi...

Ya Illahi,,
Dosa ini sedalam laut mati,
Jiwa ini terperangkap surga duniawi,
Yang melenakan segenap isi hati,
Hingga jauh dari siraman ayat suci...

Ya Rabb penguasa alam,,
Ku berdo'a dalam keheningan,
Ku tunaikan shalat malam memohon ampunan,
Ku lantunkan Dzikir dalam ingatan,
Tuk hapuskan noda dosa hitam...

Ya Illahi,,
Dzat-Mu sungguh Maha Suci,
Kepada-Mu kami berserah diri,
Bebaskan hati yang lama terpatri,
Dari godaan syetan yang kau benci...

Ya Rabbul ' Izzaty,,
Ku tahu Engkau Maha Memberi,
Tunjukkan kami jalan yang Engkau Ridhai,
Jalan indah menuju syurgawi,
Yang konon mewangi harum kasturi,
Dan berpenghuni para bidadari...

Ya Rahman Ya Rahhim,,
Jauhkan kami dari sifat Dzalim,

Astaghfirullah hal Adzim,
Astaghfirullah hal Adzim,
Astaghfirullah hal Adzim.


By Halimah Az Zahra
Hongkong, Cause Way Bay
Lautan Cinta penuh Berkah


20 May 2013

Orang Baik Terkadang Dipinggirkan

Fenomena yang sering kita jumpai dalam keseharian adalah orang yang mempunyai cita-cita dan luhur seringkali dipinggirkan dalam interaksi sosial. Apalagi jika ia berada di tengah-tengah golongan orang-orang yang lalai dan kerdil jiwanya. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika Sulaiman ad-Darani berkata, "Jika banyak orang yang meragukan kebenaran, maka cukuplah diriku saja yang tidak meragukannya".

Jika banyak orang berlaku buruk dan hanya beberapa yang berlaku baik, maka yang berlaku baik dianggap buruk. Jika di sebuah lingkungan sosial itu mayoritas bermaksiat, maka orang yang taat dianggap aneh. Al-Fudhail bin Iyadh pernah berkata, "Lewatilah jalan yang penuh dengan petunjuk. Jangan berkecil hati meskipun orang yang melewati bersamamu itu hanya sedikit. Berhati-hatilah, jangan sampai kamu melewati jalan kegelapan, dan jangan sampai kamu terpedaya oleh banyaknya orang yang memilih jalan sesat".

Tugas yang dipikul oleh seorang mukmin sangatlah mulia. Al-Qur'an telah mengatakan, bahwa Allah telah menciptakan manusia dari bumi (tanah) dan menjadikan kalian sebagai pemakmurnya (QS. Hud 61).

Itu artinya bahwa Allah memerintahkan kita untuk melakukan tugas-tugas mulia, yaitu memelihara dan memakmurkan bumi. Dengan demikian kehidupan menjadi penuh sejatera, damai dan menyenangkan.

Hal itu bisa tercapai jika manusia teguh dalam memperjuangkan tegaknya panji-panji kebenaran. Karena itulah Allah sangat berharap agar manusia saling mengingatkan jika di antara mereka berbuat buruk dan cenderung destruktif. "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyeru kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung".

Disadur sepenuhnya dari buku 
"32 Sebab Hidup Berkah dan Selalu Bahagia"
karya Abu Fajar al-Qalami.


16 May 2013

Banyak Orang Menderita Karena Sulit Tertawa

Di dunia ini tak sedikit orang yang salah menginterpretasi tentang kenyataan hidup. Hal tersebut membuat orang yang dilalui dinikmati sebagai kesengsaraan. Misalnya seorang perempuan tidak mampu menemukan sesuatu pun di rumahnya kecuali hanya kesalahan. Hari-harinya selalu terasa suram. Disana-sini terdapat piring kotor, bahkan pecah berantakan. Masakan yang hambar, atau terlalu asin, ruangan tampak kotor. Kertas-kertas beserakan, pakaian kotor ada dimana-mana. Perempuan ini menjadi marah-marah kepada anak-anak dan kepada dirinya sendiri. Apalagi kipas angin dan televisi nyala terus-menerus. Kran di kamar mandi selalu terbuka sehingga air jadi terbuang percuma. Jika ia memiliki pembantu, pasti kemarahan dan kesalahan dibebankan kepada pembantunya.

Orang semacam ini hatinya sangat menderita. Ia sulit untuk bisa tertawa karena memandang  apa yang ada di depannya bagaikan baru saja terjadi peristiwa gempa bumi. Padahal jika ia mau mengendalikan emosinya dan mampu mengelola acara hidupnya, tentu tidak akan menderita. 

Sebagian orang membuat dirinya susah, dan bahkan menyusahkan orang lain yang ada di sekelilingnya. Misalnya hanya karena ia mendengar kabar yang salah menafsirkannya, atau karena perbuatan sepele yang menimpanya, atau karena ia merugi. Mungkin pula karena ia menunggu keuntungan yang tidak pernah didapatkannya.

Orang-orang seperti ini memandang dunia begitu gelap gulita. Ada kecenderungan untuk berbuat jahat dan membuat orang lain kecewa. Biasanya, ia suka sekali membesar-besarkan masalah kecil. Karenanya ia tidak pernah merasa bahagia terhadap apa yang telah didapat, meskipun pendapatannya itu banyak dan besar. Mereka inilah orang yang sulit untuk bisa menikmati apa yang diperolehnya. Hatinya selalu rakus dan tak pernah merasa cukup.

Sebenarnya dunia ini bagaikan seni yang bisa dan mesti dipelajari. Jika sekiranya kita mau berpikir dengan jernih dan mengelola emosi dengan baik, tentu dapat menikmati hidup dengan nyaman, jiwa cemerang dan penuh rasa kasih sayang terhadap sesama. Mengapa hidup hanya menyibukkan diri dengan mengumpulkan harta dan memandang orang lain sebagai obyek untuk diperas (dimanfaatkan) demi keuntungan pribadinya. Apalah arti hidup bertumpuh pada materi tetapi sama sekali tidak berbuat baik dan bermanfaat kepada orang lain.

Banyak di antara kita yang enggan untuk mengetahui betapa hidup ini sungguh menyenangkan. Sebaliknya mereka justru membuka mata hingga terbelalak untuk memperhatikan kemewahan hidup yang berlebih-lebihan.

Mereka ibarat orang yang berjalan-jalan di taman bunga nan indah, burung-burung berkicau merdu, dan air di sungai mengalir jernih. Tetapi mereka tidak dapat menikmati keindahan yang ada di sekelilingnya. Pikirannya menerawang keluar dari taman tersebut.. [end]

Disadur sepenuhnya dari buku 
"32 Sebab Hidup Berkah dan Selalu Bahagia"
karya Abu Fajar al-Qalami.

15 May 2013

Senyuman Itu Mahal Harganya

Senyuman itu mahal. Tertawa itu bagaikan intan dan berlian. Bahkan lebih dari itu. Sampai-sampai orang bijak berkata, "Jika aku diminta untuk memilih harta atau senyuman, maka yang kupilih bisa tersenyum".

Alasan mereka lebih memilih senyuman daripada harta karena senyum dan tertawa itu mengandung kebahagiaan. Apalah harta melimpah jika dada terasa sempit. Kekuasaan dan kedudukan tinggi jika perasaan tertekan mengusik ketenangan. Bahkan dunia dan seisinya tidak ada artinya sama sekali jika kita bersedih dan muka senantiasa cemberut, bagaikan orang yang baru saja kembali dari melihat jenazah kekasihnya yang tertimpa musibah. Apalah arti istri cantik jika senantiasa tampak cemberut. 

Sulitkan kita untuk tersenyum ? Maka belajarlah dengan cara menyaksikan alam dan berpikir tentangnya. Perhatikanlah segala apa yang ada di sekeliling kita. Sesungguhnya bunga-bunga  yang sedang mekar bersemi itu pada hakikatnya tersenyum. Betapa matahari pagi yang memancarkan cahaya adalah memberikan senyuman kepada makhluk. Gunung, pepohonan yang teduh, air terjun, sungai, hamparan laut, semuanya tersenyum pada kita. Burung-burung dan binatang-binatang pun demikian halnya. Karena itu belajarlah dari alam.

Alam senantiasa tersenyum kepada kita. Demikian halnya manusia. Sekiranya di dalam diri manusia tidak ada rasa rakus, dengki, egois, sombong dan sifat buruk lainnya, pasti setiap berjumpa satu sama lainnya akan saling memberikan senyuman.

Nyatalah bahwa yang menghalangi kita untuk bisa tersenyum dikarenakan hati sedang sakit. Penyakit hati yang dimaksudkan misalnya egois, sombong, dengki, dendam, rakus dan sejenisnya. Selamanya orang akan sulit tersenyum jika penyakit itu masih kuat bersarang di dadanya. Sifat-sifat buruk itu pula yang membuat kita tidak pernah menemukan kebahagiaan hidup dan kebebasan jiwa.

Seorang akan sulit tersenyum jika bertemu dengan orang yang dibenci atau didengki. Kalaupun tersenyum, pasti senyumannya munafik; dibuat-buat dan dipaksakan. Ketika seseorang bertemu dengan orang yang didendami, tentu ia tak akan melemparkan senyuman kepadanya.

Begitu pula orang yang sombong. Karena menjaga diri agar tetap berwibawa, maka senyumannya begitu mahal. Tidak semua orang mendapat senyumannya. Ia suka menampilkan raut muka yang kenceng, dan terkesan kurang familier bagi orang yang melihatnya.

Maka, untuk belajar bisa tersenyum dan tertawa, perlulah kita melatih diri -perlahan-lahan- membersihkan hati dari penyakit-penyakit tersebut. Belajarlah untuk memaafkan kepada orang lain. Janganlah merasa lebih tinggi dari manusia lain. Sadarilah bahwa manusia dilahirkan dalam keadaan sama. Yang membedakan mulia dan tidak hanya karena akhlaknya. Harta dan jabatan bukanlah jaminan bagi kita untuk menjadi mulia... [end]

Disadur sepenuhnya dari buku 
"32 Sebab Hidup Berkah dan Selalu Bahagia"
karya Abu Fajar al-Qalami.

14 May 2013

Sukses Terkadang Tidak Membahagiakan


Mencapai target dan keinginan disebut sukses. Namun, tidaklah menjamin orang sukses itu bahagia. Sukses yang hakiki memang membahagiakan. Karenanya jangan pendapat umum tentang sukses jangan dijadikan pedoman.

Contohnya, Andy dianggap sukses. Demikian orang awam (umum) berpendapat tentang lelaki itu. Ukuran yg dipakai untuk menilai Andy sukses karena ia memiliki rumah mewah, mobil bagus dan bidang usaha yang ditekuninya melejit.

Bertahun-tahun ia bekerja keras dengan tak kenal lelah. Selama itu pula ia hidup hemat. Saking hematnya hingga mengubah karakternya menjadi orang kikir. Akhirnya, orang melihat Andy adalah pengusaha sukses. Orang lain mengira bahwa Andy sangatlah bahagia.

Padahal tahukah kita, bahwa Andy tidaklah sebahagia yang disangka orang. Apa yang dimilikinya tidaklah menjadi jaminan jika hidupnya berkah. Andy kehilangan kedamaian hati. Harta yang ada di depan matanya justru membuatnya menjadi sangat sibuk. Ia dipaksa untuk mengurus ratusan karyawannya. Ketika membaca berita kondisi ekonomi dan daya beli masyarakat menurun, ia menjadi tidak bisa tidur. Apalagi laporan dari bagian pemasaran diketahui lebih buruk dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Hatinya seringkali was-was karena takut perusahaannya merosot.

Pikiran dan tenaga Andy dibebani lagi dengan kewajiban angsuran bank yang harus dibayar setiap bulan. Jika terlambat, bank akan mengenai bunga kepadanya. Termasuk cicilan mobilnya yang belum selesai. Ditambah dengan kewajiban membayar asuransi.

Menurut pandangan orang kebanyakan, Andy memang kaya dan sukses. Tetapi ternyata kekayaan dan kesuksesannya tidak mengandung berkah. Hatinya tak pernah damai karena diusik oleh rutinitas yang dilakukannya setiap hari.

Ia benar-benar sibuk. Berangkat pagi pulang malam. Waktu bertemu dengan keluarga pun terbatas. Bahkan sering kali ia lupa waktu, sehingga baru berangkat tidur tengah malam karena harus mempersiapkan segala kebutuhan untuk tugas-tugasnya esok hari. Rutinitas yang membosankan.

Sesungguhnya Andy adalah sosok manusia yang mewakili sekian banyak orang. Mereka sukses tetapi hidupnya tidak berkah. Mereka bahagia tetapi kebahagiaannya hanya dirasakan sekejap saja. Setelah itu hatinya suntuk kembali.

Mengapa demikian ? Karena hidup Andy dan orang-orang seperti dia hanya melakukan pemenuhan kebutuhan jasmaniah saja. Mereka hanya mengumpulkan urusan duniawi. Mereka lupa, di samping pemenuhan kebutuhan duniawi, manusia juga harus memenuhi kebutuhan rohaniahnya (jiwanya).

Namun, kadang-kadang orang mencari jalan yang kurang tepat demi memenuhi kebutuhan jiwanya. Di saat pikiran suntuk dan otak ruwet, seseorang menjadi stress. Untuk meringankan beban pikirannya itu, lalu mereka mencari hiburan. Ada yang pergi ke pub, dunia malam, minum-minuman beralkohol, bahkan memakai pil ekstasi. Jalan yang ditempuh jelas salah dan tidak mampu memberikan jalan keluar dari kesuntukan.

Cara-cara demikian ini tak ubahnya bagaikan obat pereda nyeri. Ketika kandungan obat telah habis masa kerjanya, nyeri akan muncul kembali. Di saat berada dalam lingkungan hiburan, memang mereka sejenak melupakan permasalahan yang dihadapinya. Namun ketika kaluar dari tempat hiburan, permasalahan muncul kembali. Bahkan menjadi lebih berat.

Hal-hal seperti itu hanya bersifat mengendurkan saraf. Pergi berlibur, misalnya memancing, ke gunung, main golf, atau hal-hal sejenisnya tidak mampu memberika kedamaian abadi.

Segala sesuatu yang bersifat duniawi memang indah dan menarik hati. Bahkan orang bekerja keras untuk mendapatkannya. Namun hal itu tidak menjamin untuk dijadikan pemuasan jiwa.

Memang hal-hal yang bersifat duniawi dapat membahagiakan seseorang. Orang menjadi bahagia ketika berada di suasana liburan, di tempat yang indah, mendapatkan harta, kelahiran anak yang didambakan, promosi jabatan, sanjungan, mendapatkan hadiah dan sebagainya. Inilah tabiat manusia. Namun sesungguhnya semua itu belum tentu bisa memuaskan jiwa secara berkelanjutan.



Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik. QS. Ali Imran : 14.

Inilah tabiat manusia yang telah dijelaskan Allah melalui al-Qur'an. Harta benda, anak-anak, perempuan, dan jabatan adalah sesuatu yang menggiurkan hati manusia. Karena itulah mereka bekerja keras, melakukan apa pun yang bisa dilakukan agar ia merasakan bahagia dalam hidupnya.

Namun demikian, terkadang istilah bahagia dipahami secara keliru dan ditempuh dengan cara pintas untuk meraihnya. Seperti yang telah disinggung di atas bahwa penyalahgunaan obat terlarang atau meminum minuman keras dan zina adalah cara-cara yang diharapkan agar mendapatkan kebahagiaan. Agar terlepas dari belenggu yang merantai jiwanya, dan kesulitan hidup.

Mereka menganggap harta adalah segala-galanya dan menjadi sarana untuk mencapai bahagia. Ini pun dilakukan dengan jalan pintas dan keliru. Memang secara kasat mata mereka tampak bahagia. Di satu sisi mereka dianggap sukses, namun di sisi lain mereka mengalami kejatuhan moral dan kegersangan jiwa.

Disadur sepenuhnya dari buku 
"32 Sebab Hidup Berkah dan Selalu Bahagia"
karya Abu Fajar al-Qalami.